
Jakarta – Sensasi pedas dari cabai ternyata bukan hanya membuat makanan terasa lebih menggugah selera. Kandungan senyawa aktif di dalam cabai juga dikaitkan dengan sejumlah manfaat bagi kesehatan, bahkan disebut berpotensi mendukung umur panjang.
Berbagai penelitian telah mengaitkan konsumsi makanan pedas dengan sejumlah manfaat, mulai dari membantu menjaga berat badan, mendukung kesehatan jantung dan pencernaan, hingga menurunkan risiko beberapa penyakit kronis.
Salah satu senyawa penting yang berperan adalah capsaicin. Senyawa inilah yang memberikan sensasi panas dan pedas pada cabai.
Dikutip dari Fox News, Bryan Quoc Le, PhD, ilmuwan pangan dari Mendocino Food Consulting, menjelaskan bahwa capsaicin dapat memberikan pengaruh terhadap mikrobioma usus.
Capsaicin Bisa Pengaruhi Bakteri Usus
Menurut Le, konsumsi capsaicin dapat memengaruhi komposisi bakteri yang hidup di dalam usus. Senyawa tersebut berpotensi mendukung pertumbuhan bakteri baik sekaligus menekan bakteri yang kurang menguntungkan.
Perubahan tersebut kemudian dapat berkaitan dengan produksi triptofan, yaitu asam amino yang berperan dalam pembentukan serotonin.
Serotonin sendiri memiliki fungsi penting dalam tubuh, termasuk berkaitan dengan pengaturan suasana hati, tidur, dan sistem pencernaan.
Namun, bukan berarti seseorang harus mengonsumsi makanan dengan tingkat kepedasan ekstrem untuk mendapatkan manfaat tersebut.
Le menyebutkan bahwa sedikit tambahan rasa pedas dalam makanan sudah dapat memberikan asupan capsaicin. Salah satu perkiraan yang disebutkannya adalah sekitar 0,01% dari makanan sehari-hari.
Tak Perlu Makan Pedas Berlebihan
Menambahkan sambal ke makanan menjadi salah satu cara sederhana untuk memasukkan rasa pedas ke dalam menu harian.
Sambal dapat dipadukan dengan berbagai makanan gurih, seperti ayam panggang, semur, taco, maupun hidangan berbahan dasar daging. Sebaiknya jumlah sambal disesuaikan agar rasa pedas tetap menjadi pelengkap dan tidak menutupi cita rasa makanan.
Bagi orang yang belum terbiasa mengonsumsi makanan pedas, sebaiknya tidak langsung mencoba cabai dengan tingkat kepedasan tinggi. Tubuh perlu beradaptasi sehingga jumlah dan tingkat kepedasan bisa ditingkatkan secara perlahan sesuai toleransi.
Selain capsaicin dari cabai, sejumlah rempah seperti jahe, kayu manis, cengkeh, dan bawang putih juga kerap dikaitkan dengan manfaat kesehatan.
Ken Grey, praktisi pengobatan tradisional dari Florida, Amerika Serikat, menilai rempah-rempah tersebut dapat mendukung sirkulasi darah, metabolisme, pencernaan, serta kesehatan jantung.
Bisa Mendukung Pengelolaan Berat Badan
Makanan dan rempah pedas juga disebut berpotensi membantu proses metabolisme. Karena itu, konsumsi cabai kerap dikaitkan dengan upaya menjaga berat badan.
Dalam sejumlah pola makan tradisional, cabai bahkan telah lama digunakan sebagai bagian dari menu sehari-hari.
Di Meksiko dan Guatemala, misalnya, cabai menjadi bagian dari hidangan berbahan dasar jagung dan disebut dapat membantu proses penyerapan zat besi.
Sementara di sejumlah wilayah Asia, cabai dan berbagai rempah digunakan sebagai bagian dari masakan karena memiliki senyawa yang berpotensi memberikan efek antimikroba.
Di Indonesia sendiri, cabai sangat mudah ditemukan dalam berbagai hidangan. Mulai dari sambal, semur, hingga aneka masakan seafood.
Tetap Ada Batas Konsumsinya
Meski memiliki sejumlah potensi manfaat, makanan pedas bukan berarti bisa dikonsumsi tanpa batas.
Jika disantap terlalu banyak, rasa pedas justru dapat menimbulkan berbagai keluhan. Beberapa orang bisa mengalami perut terasa perih, diare, batuk, sakit kepala, hingga asam lambung naik.
Karena itu, manfaat cabai tetap perlu dilihat dalam konteks pola makan secara keseluruhan. Konsumsi secukupnya dan sesuaikan tingkat kepedasan dengan kemampuan tubuh.
Jadi, menikmati makanan pedas boleh saja. Namun, tidak perlu mengejar sensasi pedas ekstrem hanya demi mendapatkan manfaat kesehatan.
