
Jakarta – Bau badan yang muncul seiring bertambahnya usia sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. Padahal, menurut seorang pakar, kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan yang terjadi pada tubuh dan dapat dibantu dengan memperhatikan asupan makanan.
Pada orang lanjut usia (lansia), aroma tubuh dapat berubah menjadi lebih khas. Bau tersebut kerap dideskripsikan menyerupai kapur barus, kardus lembap, ruang bawah tanah yang basah, hingga dedaunan kering atau makanan kaleng yang sudah kedaluwarsa.
Perubahan aroma tubuh ini tidak hanya berkaitan dengan kebersihan. Penurunan fungsi organ, perubahan hormon, serta penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat memengaruhinya.
Leslie Kenny, pendiri Oxford Healthspan, menjelaskan bahwa salah satu penyebab aroma khas tersebut berkaitan dengan proses peroksidasi lipid pada permukaan kulit.
Seiring bertambahnya usia, kemampuan alami kulit dalam menangkal radikal bebas dan melindungi diri dari oksidasi dapat menurun. Kondisi tersebut kemudian dapat meningkatkan proses oksidasi lipid serta pembentukan senyawa bernama 2-nonenal.
Senyawa 2-nonenal pada dasarnya terbentuk dari proses oksidasi lemak di permukaan kulit. Menurut Kenny, senyawa ini menjadi salah satu penyebab munculnya aroma khas yang sering dikaitkan dengan usia lanjut.
Masalahnya, proses pergantian sel kulit juga tidak secepat ketika seseorang masih muda. Akibatnya, senyawa yang menimbulkan aroma tersebut dapat bertahan lebih lama di permukaan kulit.
Kenny menilai kondisi tersebut berbeda dari bau badan biasa. Penggunaan parfum pun belum tentu menjadi solusi karena hanya menutupi aroma sementara. Bahkan, perpaduan parfum dengan bau tubuh tersebut bisa membuat aromanya terasa semakin pengap atau apek.
Mandi juga tidak selalu mampu menghilangkan aroma secara menyeluruh. Hal ini dikaitkan dengan lambatnya regenerasi sel serta proses pemecahan lipid di kulit pada usia lanjut.
Lantas, apakah ada cara lain untuk membantu mengatasinya?
Kenny menyebut jamur sebagai salah satu makanan yang dapat menjadi pilihan. Jenis makanan ini mengandung ergothioneine, yakni asam amino yang memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi.
Ergothioneine dipercaya dapat membantu melindungi lipid dari proses oksidasi. Dengan begitu, proses yang berkontribusi terhadap pembentukan senyawa 2-nonenal di permukaan kulit diharapkan dapat ditekan.
Tidak hanya berkaitan dengan aroma tubuh, ergothioneine juga disebut memiliki manfaat lain bagi tubuh. Senyawa tersebut dikaitkan dengan perlindungan sel dan bahkan berpotensi membantu menjaga fungsi kognitif.
Jamur juga mengandung spermidine dalam jumlah yang cukup baik. Senyawa organik tersebut berkaitan dengan proses autofagi, yaitu mekanisme alami tubuh untuk membersihkan bagian-bagian sel yang sudah rusak.
Autofagi memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan sel, mendukung metabolisme, serta membantu tubuh menghadapi proses penuaan.
Dari berbagai jenis jamur, shiitake dan jamur tiram disebut sebagai pilihan yang baik. Kandungan ergothioneine dan spermidine di dalamnya menjadi alasan makanan tersebut dikaitkan dengan upaya menjaga kesehatan sel sekaligus membantu mengatasi aroma tubuh yang muncul seiring usia.
Menurut Kenny, kombinasi penurunan hormon dan melambatnya pergantian sel dapat berkontribusi terhadap munculnya bau khas pada lansia. Karena itu, menjaga asupan makanan yang kaya antioksidan dapat menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh.
“Dan jika Anda sudah tua dan ingin menghilangkan baunya, jamur adalah pilihan yang tepat. Sekali lagi, jamur mengandung spermidine yang akan membantu mempercepat pergantian sel,” ujarnya.
Meski demikian, konsumsi jamur sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pola hidup sehat, bukan sebagai satu-satunya cara untuk menghilangkan bau badan. Kebersihan tubuh, kondisi kesehatan, obat-obatan yang dikonsumsi, serta perubahan hormon juga dapat berperan terhadap aroma tubuh seseorang.
