
Jakarta – Penelitian terbaru mengungkap adanya virus yang ditemukan pada hewan laut seperti udang dan ikan yang diduga memiliki kaitan dengan infeksi mata pada manusia. Virus tersebut dikenal sebagai covert mortality nodavirus (CMNV).
Temuan ini berasal dari penelitian kolaborasi sejumlah lembaga, yaitu Chinese Academy of Fishery Sciences, Qingdao Eye Hospital of Shandong First Medical University, University of Melbourne, dan Duke-NUS Medical School.
Sebelumnya, CMNV diketahui sebagai virus yang menyerang hewan air, terutama udang budidaya. Virus ini pertama kali ditemukan di China pada 2014 dan pernah dikaitkan dengan wabah penyakit yang menyebabkan kerugian besar pada industri tambak udang sejak 2009.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa virus tersebut juga perlu mendapat perhatian karena berpotensi berkaitan dengan gangguan kesehatan mata manusia.
Virus CMNV Dikaitkan dengan Gangguan Mata
Dalam penelitian tersebut, CMNV dikaitkan dengan penyakit mata bernama persistent ocular hypertensive viral anterior uveitis (POH-VAU).
Kondisi ini menyebabkan peradangan yang berulang pada bagian depan mata sekaligus meningkatkan tekanan bola mata. Jika tidak ditangani dengan baik, gangguan tersebut dapat menyebabkan kerusakan saraf optik, penurunan penglihatan berat, hingga kebutaan permanen.
Pada beberapa kasus yang diteliti, sekitar sepertiga pasien dengan kondisi tersebut harus menjalani operasi glaukoma. Bahkan, terdapat laporan pasien yang mengalami kehilangan penglihatan secara permanen akibat infeksi.
Virus Ditemukan pada Berbagai Sampel Seafood
Para peneliti menemukan bahwa CMNV telah tersebar di berbagai wilayah dunia. Dalam penelitian tersebut, sekitar 35 persen sampel udang dan 40 persen sampel ikan di Asia menunjukkan hasil positif terhadap virus tersebut.
Virus serupa juga ditemukan pada berbagai spesimen laut dari sejumlah wilayah lain, termasuk Amerika, Afrika, hingga Antarktika.
Selain itu, pemeriksaan terhadap 351 produk seafood yang beredar di enam provinsi China menemukan keberadaan CMNV pada sekitar 33 hingga 62 persen sampel yang mencakup ikan, udang, kepiting, moluska, dan cumi-cumi.
Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau WOAH (World Organisation for Animal Health) juga telah memasukkan CMNV sebagai salah satu penyakit infeksi baru yang perlu mendapat perhatian.
Risiko Lebih Tinggi pada Penangan Seafood Mentah
Peneliti menyebut penyebaran CMNV kemungkinan berkaitan dengan meningkatnya interaksi manusia dengan hewan air, terutama pada pekerja industri perikanan dan pengolahan makanan laut.
Wilayah dengan aktivitas budidaya ikan dan seafood yang tinggi disebut memiliki angka kasus infeksi mata lebih besar dibandingkan daerah dengan produksi lebih rendah.
“Angka pada pasien yang matanya terinfeksi virus ini ditemukan 77% lebih tinggi di provinsi dengan produksi seafood budidaya terbesar dibanding wilayah dengan produksi rendah,” tulis laporan penelitian tersebut.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa seafood yang dimasak hingga matang masih tergolong aman untuk dikonsumsi. Virus CMNV diketahui dapat bertahan dalam kondisi dingin, tetapi dapat rusak ketika terkena suhu panas.
Risiko terbesar justru terjadi pada orang yang sering melakukan kontak langsung dengan seafood mentah, seperti saat membersihkan atau mengolah bahan makanan.
Cara Mengurangi Risiko Paparan Virus
Untuk mengurangi kemungkinan paparan, masyarakat disarankan lebih berhati-hati saat menangani seafood mentah.
Penggunaan sarung tangan ketika membersihkan ikan atau udang mentah dapat membantu mengurangi risiko kontak langsung. Selain itu, alat makan dan peralatan dapur yang digunakan untuk seafood mentah sebaiknya tidak bercampur dengan peralatan makanan siap santap.
Meski temuan ini masih membutuhkan penelitian lanjutan, menjaga kebersihan dan memastikan seafood dimasak dengan baik tetap menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan.
