
Jakarta – Setelah mengalami serangan jantung, menjaga pola makan menjadi salah satu bagian penting dalam merawat kesehatan kardiovaskular. Bukan hanya jenis makanan yang perlu diperhatikan, tetapi juga kandungan garam, gula, lemak, serta tingkat pengolahannya.
Makanan yang tinggi sodium, lemak jenuh, lemak trans, maupun gula tambahan dapat memengaruhi tekanan darah, kadar kolesterol, dan berat badan. Faktor-faktor tersebut berkaitan erat dengan kesehatan jantung sehingga perlu dikendalikan, terutama pada orang yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular.
Alih-alih mengandalkan makanan olahan, pasien umumnya lebih dianjurkan memilih bahan makanan segar dan mengolahnya sendiri agar jumlah garam, gula, serta lemak yang digunakan lebih mudah dikontrol.
Lantas, makanan apa saja yang sebaiknya dibatasi setelah mengalami serangan jantung? Berikut beberapa jenis asupan yang perlu diperhatikan.
1. Makanan dengan Kandungan Garam Tinggi
Sodium merupakan salah satu zat yang perlu dibatasi oleh orang dengan masalah jantung. Asupan sodium berlebih dapat membuat tubuh menahan lebih banyak cairan dan pada akhirnya meningkatkan tekanan pada sistem peredaran darah.
Kondisi tersebut dapat menjadi perhatian khusus bagi orang yang memiliki tekanan darah tinggi maupun riwayat penyakit jantung.
Sumber sodium tidak hanya berasal dari garam dapur. Makanan instan, makanan kalengan, keripik, saus, makanan cepat saji, serta berbagai produk olahan juga dapat menyumbang sodium dalam jumlah besar.
Memasak makanan sendiri menjadi salah satu cara untuk mengontrol penggunaan garam sekaligus mengetahui bahan yang masuk ke dalam makanan.
2. Batasi Lemak Jenuh dan Lemak Trans
Tidak semua jenis lemak harus dihilangkan dari menu harian. Tubuh tetap membutuhkan lemak, tetapi jenis dan jumlahnya perlu diperhatikan.
Lemak jenuh dan terutama lemak trans sebaiknya dibatasi karena konsumsi berlebihan dapat berdampak buruk terhadap kadar kolesterol dan kesehatan jantung.
Beberapa sumbernya antara lain gorengan, makanan yang dibuat menggunakan banyak margarin atau lemak padat, kue tertentu, camilan olahan, serta daging dan produk susu dengan kandungan lemak tinggi.
Sebagai gantinya, sumber lemak yang lebih sehat dapat diperoleh dari makanan seperti kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, dan minyak nabati dalam jumlah yang sesuai.
3. Jangan Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan Kemasan
Kepraktisan makanan kemasan membuatnya mudah ditemukan dalam menu sehari-hari. Namun, produk seperti ini sering kali mengandung kombinasi sodium, gula, dan lemak yang cukup tinggi.
Masalah lainnya adalah kandungan sodium tersembunyi. Seseorang mungkin tidak merasa menambahkan banyak garam ke makanannya, tetapi asupan sodium dapat meningkat karena berasal dari berbagai produk kemasan.
Karena itu, orang dengan riwayat serangan jantung sebaiknya tidak menjadikan makanan ultra-proses sebagai makanan utama sehari-hari.
Membaca label nutrisi sebelum membeli makanan juga dapat membantu mengetahui jumlah sodium, gula tambahan, dan lemak yang terkandung di dalamnya.
4. Makanan dan Minuman dengan Gula Tambahan Tinggi
Asupan gula berlebihan tidak hanya berkaitan dengan kenaikan berat badan dan diabetes. Pola makan tinggi gula juga dapat berdampak pada berbagai faktor risiko penyakit jantung.
Sumber gula tambahan terkadang tidak terlihat jelas. Selain permen dan kue, gula dapat ditemukan dalam minuman bersoda, minuman kemasan, makanan pencuci mulut, saus, serta produk olahan tertentu.
Bahkan minuman yang menggunakan label atau citra “sehat” belum tentu rendah gula. Karena itu, kandungan gula pada label nutrisi tetap perlu diperiksa.
Air putih dan buah utuh dapat menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan minuman manis atau jus dengan tambahan gula.
5. Kurangi Karbohidrat Olahan
Bukan berarti seluruh makanan yang mengandung tepung harus dihindari. Namun, karbohidrat olahan sebaiknya tidak menjadi sumber karbohidrat utama secara berlebihan.
Produk yang dibuat dari tepung olahan, seperti roti putih dan sejumlah makanan ringan, umumnya memiliki kandungan serat yang lebih rendah dibandingkan biji-bijian utuh.
Karbohidrat yang rendah serat dapat dicerna lebih cepat sehingga menyebabkan kadar gula darah meningkat lebih cepat dibandingkan sumber karbohidrat yang kaya serat.
Pilihan seperti gandum utuh, beras merah, oat, kacang-kacangan, serta sumber karbohidrat tinggi serat dapat menjadi alternatif yang lebih baik.
Pola Makan Setelah Serangan Jantung Perlu Lebih Teratur
Menghindari satu jenis makanan saja tidak cukup untuk menjaga kesehatan jantung. Pola makan secara keseluruhan jauh lebih penting.
Usahakan menu harian terdiri dari sayuran, buah, sumber protein yang lebih rendah lemak, biji-bijian utuh, serta sumber lemak sehat. Pada saat yang sama, batasi makanan tinggi sodium, gula tambahan, lemak jenuh, lemak trans, dan produk ultra-proses.
Bagi seseorang yang baru mengalami serangan jantung atau menjalani prosedur jantung, kebutuhan makanan dapat berbeda-beda. Karena itu, perubahan pola makan sebaiknya dibicarakan dengan dokter atau ahli gizi agar sesuai dengan kondisi kesehatan dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi.
