
Jakarta – Pernah menemukan tulisan “microwave-safe” pada wadah makanan takeaway? Label tersebut memang menunjukkan wadah dirancang untuk digunakan dalam microwave, tetapi bukan berarti bisa dipanaskan tanpa batas atau untuk semua kondisi.
Wadah makanan yang digunakan untuk membawa pulang pesanan restoran sangat beragam. Ada yang terbuat dari plastik tipis, seperti thinwall, dan ada pula yang menggunakan bahan kertas yang dapat didaur ulang.
Sebagian kemasan mencantumkan simbol atau tulisan “Microwave-safe”. Tanda tersebut sering kali dianggap sebagai jaminan bahwa wadah boleh langsung dimasukkan ke dalam microwave. Padahal, penggunaannya tetap perlu memperhatikan jenis bahan, kondisi wadah, jenis makanan, serta durasi pemanasan.
Dikutip dari Indian Express, ahli gizi Sandhaya Pandev menjelaskan bahwa istilah “aman untuk microwave” memiliki arti yang lebih terbatas daripada yang mungkin dibayangkan.
Bukan berarti bisa dipanaskan sesuka hati
Label microwave-safe pada dasarnya menunjukkan bahwa sebuah wadah telah dirancang untuk mampu menghadapi kondisi pemanasan dalam microwave tanpa mudah meleleh, berubah bentuk, atau melepaskan bahan kimia dalam jumlah besar pada kondisi penggunaan yang sesuai.
Namun, tanda tersebut tidak otomatis berarti wadah dapat digunakan untuk pemanasan dalam waktu lama maupun pada semua jenis makanan.
Sandhaya menjelaskan bahwa tingkat keamanan wadah dapat dipengaruhi berbagai hal. Beberapa di antaranya adalah material yang digunakan, suhu yang dihasilkan selama pemanasan, lamanya makanan berada di dalam microwave, serta kandungan lemak dan gula pada makanan.
Karena itu, keberadaan label tersebut lebih tepat dipandang sebagai petunjuk penggunaan daripada jaminan mutlak bahwa tidak akan terjadi perpindahan zat dari wadah menuju makanan.
Panas dan makanan berlemak perlu diperhatikan
Menurut Sandhaya, terdapat bukti bahwa sebagian material plastik yang bersentuhan dengan makanan dapat melepaskan sejumlah kecil bahan kimia atau partikel mikroskopis selama penggunaan normal. Potensi perpindahan tersebut juga dapat meningkat ketika wadah terkena suhu yang lebih tinggi.
Makanan dengan kandungan lemak atau minyak tinggi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Kondisi tersebut dapat membuat risiko perpindahan bahan dari kemasan menjadi lebih tinggi ketika makanan dipanaskan.
Oleh sebab itu, dari sudut pandang kesehatan masyarakat dan nutrisi, Sandhaya menyarankan untuk tidak memanaskan makanan dalam wadah plastik dalam waktu lama, terutama jika makanan tersebut banyak mengandung minyak atau dipanaskan pada suhu sangat tinggi.
Cek kembali wadah sebelum digunakan
Tidak cukup hanya melihat apakah wadah memiliki bentuk yang cocok untuk microwave. Konsumen juga dianjurkan memastikan adanya label atau simbol yang secara jelas menunjukkan bahwa wadah tersebut memang aman digunakan dalam microwave.
Sandhaya menyebut wadah berbahan polipropilena (PP) sebagai salah satu pilihan plastik yang lebih baik untuk pemanasan ulang. Bahan tersebut umumnya ditandai dengan kode daur ulang #5.
Meski demikian, kode daur ulang tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan. Sandhaya menegaskan bahwa nomor tersebut tidak secara otomatis menunjukkan wadah aman untuk microwave. Harus ada pula keterangan atau simbol yang menyatakan wadah tersebut memang diperuntukkan bagi penggunaan di microwave.
Kondisi fisik wadah juga tidak boleh diabaikan. Jika kemasan sudah mengalami goresan, retak, perubahan warna, atau menjadi rapuh akibat penggunaan berulang, sebaiknya jangan digunakan kembali untuk memanaskan makanan.
Styrofoam dan plastik tipis sebaiknya dihindari
Wadah takeaway tertentu juga lebih baik tidak digunakan untuk memanaskan makanan di microwave. Styrofoam dan plastik yang sangat tipis, misalnya, dapat mengalami perubahan bentuk atau bahkan meleleh ketika terkena panas.
Untuk mengurangi risiko tersebut, makanan sebaiknya dipindahkan terlebih dahulu dari kemasan takeaway ke wadah yang memang sesuai untuk microwave.
Kaca dan keramik menjadi pilihan lebih praktis
Menurut Sandhaya, salah satu cara sederhana untuk memanaskan makanan dengan lebih aman adalah memindahkannya ke piring atau wadah berbahan kaca maupun keramik yang memang aman digunakan dalam microwave.
Kaca dan keramik relatif stabil ketika terkena suhu tinggi sehingga dapat menjadi alternatif untuk mengurangi kekhawatiran mengenai perpindahan bahan dari kemasan ke makanan.
Sandhaya mengatakan bahwa kebiasaan memindahkan makanan ke wadah kaca atau keramik sebelum dipanaskan dapat membantu mengurangi paparan yang tidak diperlukan dari bahan kemasan sekaligus membuat makanan panas lebih merata.
Tips memanaskan makanan sisa
Selain memperhatikan wadah, cara memanaskan makanan juga penting. Sandhaya membagikan beberapa hal yang dapat dilakukan saat menghangatkan makanan sisa menggunakan microwave:
- Panaskan makanan hingga suhu bagian dalamnya mencapai sekitar 74 derajat Celcius.
- Aduk makanan ketika proses pemanasan sudah berlangsung setengah waktu agar panas lebih merata dan mengurangi kemungkinan adanya bagian yang masih dingin.
- Jangan menggunakan wadah yang sudah tergores untuk memanaskan makanan.
- Hindari memasukkan wadah berbahan logam atau aluminium foil ke dalam microwave, kecuali produk tersebut memang secara khusus dirancang untuk penggunaan di microwave.
Jadi, tulisan “microwave-safe” bukan berarti wadah tersebut bebas digunakan tanpa memperhatikan kondisi dan cara pemakaiannya. Untuk pilihan yang lebih praktis, memindahkan makanan ke wadah kaca atau keramik yang sesuai sebelum dipanaskan dapat menjadi langkah sederhana.
