
Jakarta – Milk tea atau teh susu menjadi salah satu minuman populer yang banyak digemari, terutama di kalangan anak muda. Rasa manis, segar, dan mudah ditemukan membuat minuman ini kerap dijadikan teman saat beraktivitas maupun sebagai pelepas stres.
Popularitas milk tea terus berkembang seiring bertambahnya gerai minuman kekinian di berbagai negara. Namun, di balik rasanya yang menyenangkan, konsumsi berlebihan mulai mendapat perhatian karena dikaitkan dengan sejumlah risiko kesehatan.
Dikutip dari Asia News Network, beberapa penelitian terbaru menyoroti hubungan antara kebiasaan mengonsumsi milk tea dalam jumlah tinggi dengan risiko kecanduan hingga gangguan kesehatan mental.
Berikut sejumlah dampak yang perlu diperhatikan dari kebiasaan minum milk tea berlebihan.
1. Dianggap Memberi Rasa Nyaman dan Bahagia
Bagi sebagian orang, milk tea bukan hanya sekadar minuman, tetapi sudah menjadi bagian dari rutinitas dan gaya hidup. Salah satunya Li Mingchun, pria berusia 28 tahun asal China, yang mengaku rutin mengonsumsi minuman tersebut.
Ia bahkan dapat meminum beberapa gelas milk tea dalam satu minggu dan merasa minuman manis tersebut memberikan kepuasan, terutama saat dinikmati bersama teman atau orang terdekat.
Menurutnya, milk tea dingin setelah berolahraga atau saat berkumpul dapat memberikan pengalaman menyenangkan yang membuat suasana hati menjadi lebih baik.
2. Berpotensi Menimbulkan Ketergantungan dan Gangguan Mental
Di balik efek menyenangkan tersebut, penelitian terbaru menemukan adanya kaitan antara konsumsi milk tea berlebihan dengan risiko kecanduan. Studi dari Universitas Tsinghua yang melibatkan 5.281 mahasiswa menemukan hubungan antara adiksi milk tea dengan gejala depresi, kecemasan, hingga pikiran untuk menyakiti diri.
Para peneliti menduga kandungan gula tinggi dalam milk tea dapat memengaruhi sistem hormon stres dan berpengaruh terhadap pengaturan emosi.
3. Perlu Ada Edukasi dari Industri Minuman
Hasil penelitian tersebut mendorong adanya perhatian lebih terhadap industri minuman manis. Para peneliti menilai diperlukan edukasi mengenai konsumsi gula, informasi nilai gizi yang lebih jelas, serta kebijakan yang dapat membantu melindungi kesehatan masyarakat, khususnya anak muda.
Di China sendiri, pasar milk tea mengalami pertumbuhan pesat. Nilai industrinya mencapai 333,4 miliar yuan pada 2023 dan diperkirakan masih terus berkembang.
4. Sulit Mengurangi Konsumsi Meski Mengetahui Risikonya
Banyak penggemar milk tea sebenarnya menyadari bahwa konsumsi berlebihan tidak baik bagi kesehatan. Namun, kebiasaan tersebut tetap sulit dihentikan karena minuman ini mudah ditemukan, harganya relatif terjangkau, dan sudah menjadi bagian dari aktivitas sosial.
Hu Dianhan, salah satu konsumen milk tea, membandingkan kebiasaan tersebut dengan perilaku lain seperti sering begadang atau mengonsumsi makanan cepat saji. Banyak orang mengetahui risikonya, tetapi tetap melakukannya.
Kini milk tea bahkan mulai menjadi bagian dari berbagai momen sosial, termasuk acara pernikahan. Sebagian orang menganggap minuman ini sebagai simbol gaya hidup modern.
5. Menjadi Cara Melarikan Diri dari Tekanan
Bagi sebagian anak muda, milk tea juga berfungsi sebagai minuman penghibur ketika menghadapi stres. Luo Jiali mengaku sering membeli milk tea saat merasa lelah atau membutuhkan waktu istirahat dari aktivitas yang padat.
Ia bahkan menjadikan minuman tersebut sebagai pengganti makanan ketika sibuk. Menurutnya, menikmati milk tea dapat membantu memperbaiki suasana hati dan membuat hari terasa lebih menyenangkan.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa rasa nyaman yang diberikan milk tea tidak boleh membuat seseorang mengabaikan dampak konsumsi gula berlebih. Menjaga jumlah konsumsi dan menerapkan pola hidup seimbang tetap menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan.
