
Jakarta – Susu beserta berbagai produk olahannya menjadi bagian dari pola makan masyarakat di banyak negara. Namun, masih banyak yang bertanya-tanya apakah kebiasaan mengonsumsi dairy setiap hari benar-benar baik untuk kesehatan jantung atau justru meningkatkan risikonya.
Sebuah penelitian berskala besar mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan menganalisis hubungan antara konsumsi produk susu dan penyakit kardiovaskular. Penelitian ini melibatkan lebih dari 460 ribu orang dewasa di China berusia 30 hingga 79 tahun yang dipantau kondisi kesehatan serta pola makannya selama bertahun-tahun.
Mengutip Eating Well, para peneliti memanfaatkan data dari China Kadoorie Biobank, yaitu studi kohort jangka panjang yang mengamati gaya hidup dan kesehatan peserta dalam periode yang panjang.
Dalam penelitian tersebut, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan seberapa sering mereka mengonsumsi produk susu, mulai dari yang hampir tidak pernah hingga mereka yang menikmati produk dairy sedikitnya empat kali dalam seminggu.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok yang lebih rutin mengonsumsi produk susu cenderung memiliki risiko lebih rendah mengalami sejumlah penyakit kardiovaskular. Risiko serangan jantung, stroke hemoragik, hingga kematian akibat penyakit jantung tercatat lebih rendah dibandingkan kelompok yang jarang mengonsumsi dairy.
Temuan ini cukup menarik karena selama ini susu sering dikaitkan dengan kandungan lemak jenuhnya yang dianggap dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa konsumsi produk susu berkaitan dengan indeks massa tubuh (BMI) yang lebih rendah serta tekanan darah yang lebih terkontrol. Kedua faktor tersebut diketahui berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem kardiovaskular sehingga diduga ikut memberikan manfaat terhadap kesehatan jantung.
Meski demikian, para peneliti juga menemukan bahwa konsumsi produk susu dalam jumlah tinggi, yakni sekitar empat porsi atau lebih setiap minggu, berkaitan dengan peningkatan sekitar 11 persen risiko penyakit jantung iskemik, yaitu kondisi penyempitan pembuluh darah yang memasok darah ke jantung. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi berlebihan belum tentu memberikan manfaat tambahan.
Para peneliti mengingatkan bahwa studi ini masih memiliki sejumlah keterbatasan. Informasi mengenai konsumsi susu diperoleh dari laporan atau ingatan para peserta sehingga kemungkinan terjadi bias masih ada.
Selain itu, hasil penelitian juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti kondisi kesehatan masing-masing individu, jenis produk susu yang dikonsumsi, hingga pola makan dan gaya hidup masyarakat di wilayah berbeda.
Karena itu, para peneliti menilai masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memastikan hubungan antara konsumsi produk susu dan kesehatan jantung secara lebih menyeluruh.
Meskipun demikian, hasil studi ini menambah bukti bahwa produk susu dapat menjadi bagian dari pola makan sehat bagi kesehatan jantung dan metabolisme, selama dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai dan tetap diimbangi dengan pola makan bergizi seimbang.
