
Jakarta – Munculnya bercak jamur pada makanan tidak selalu berarti bagian tersebut cukup dipotong lalu sisanya dimakan. Pada sejumlah makanan, jamur dapat menyebar ke bagian dalam yang tidak terlihat sehingga lebih aman jika seluruh makanan dibuang.
Bercak berwarna putih, hijau, biru, atau hitam pada makanan sering kali menjadi tanda adanya pertumbuhan jamur. Persoalannya, sebagian orang masih memilih menghilangkan bagian yang terlihat rusak karena menganggap bagian lainnya masih aman.
Padahal, beberapa jenis jamur dapat menghasilkan mikotoksin, yaitu senyawa beracun yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. Ahli toksikologi Dr. Brad Reisfeld mengingatkan bahwa membuang bagian yang terlihat berjamur tidak selalu menghilangkan risiko kontaminasi.
Dilansir dari DailyMailUK, berikut empat jenis makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi jika sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan atau pertumbuhan jamur.
1. Daging
Daging yang sudah mengalami kerusakan perlu mendapat perhatian khusus. Tidak semua kontaminasi bakteri dapat langsung dikenali hanya dari aroma atau perubahan warnanya.
Daging yang disimpan terlalu lama berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri seperti E. coli, Salmonella, dan Campylobacter jejuni. Beberapa mikroorganisme tersebut dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan masalah kesehatan lainnya.
Perubahan tekstur menjadi berlendir serta warna yang tampak tidak normal merupakan tanda yang patut dicurigai. Jika daging sudah terlihat rusak atau penyimpanannya diragukan, sebaiknya jangan mengambil risiko dengan tetap mengonsumsinya.
2. Buah-buahan
Buah yang terlalu matang, mengalami memar, atau disimpan dalam kondisi kurang tepat lebih mudah ditumbuhi jamur.
Pertumbuhan jamur dapat terlihat sebagai bercak berwarna putih, hijau, kuning, maupun hitam. Pada beberapa jenis buah, jamur juga dapat menghasilkan mikotoksin.
Salah satu contohnya adalah Penicillium expansum, yang dapat ditemukan pada buah seperti apel, pir, ceri, dan persik. Jamur tersebut dikenal dapat menghasilkan patulin.
Masalahnya, jamur tidak selalu hanya berada di permukaan. Pada buah yang lunak dan berair, pertumbuhannya dapat menyebar lebih jauh ke bagian yang terlihat masih baik.
Karena itu, sekadar memotong bercak jamur pada buah lunak belum tentu cukup untuk membuatnya aman dikonsumsi.
3. Roti dan Biji-bijian
Roti yang sudah ditumbuhi jamur juga sebaiknya tidak hanya dipotong bagian yang terlihat rusak.
Struktur roti yang berpori memungkinkan pertumbuhan jamur menjalar ke bagian dalam tanpa mudah terlihat. Hal serupa perlu diperhatikan pada biji-bijian atau kacang-kacangan yang menunjukkan perubahan warna maupun aroma.
Beberapa jenis jamur, seperti Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus, dapat menghasilkan aflatoksin. Paparan aflatoksin dalam jangka panjang diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko kanker hati.
Jamur Fusarium yang dapat tumbuh pada sejumlah serealia juga berpotensi menghasilkan senyawa toksik.
Jadi, apabila roti, biji-bijian, atau kacang sudah terlihat berjamur, berubah warna, atau mengeluarkan aroma yang tidak biasa, lebih baik tidak dikonsumsi.
4. Keju
Keju menjadi kasus yang sedikit berbeda karena beberapa jenis keju memang dibuat menggunakan jamur tertentu. Contohnya adalah Roquefort, Stilton, Brie, dan Camembert.
Namun, jika jamur yang muncul bukan bagian dari proses pembuatannya, konsumen perlu lebih berhati-hati. Pertumbuhan jamur dengan warna mencolok atau tekstur berbulu yang tidak biasa dapat menjadi tanda kerusakan.
Keju bertekstur lunak seperti ricotta dan krim keju sebaiknya dibuang seluruhnya jika ditumbuhi jamur. Tekstur yang lembap membuat jamur lebih mudah menyebar ke bagian dalam.
Sementara itu, pada keju keras, bagian yang berjamur dalam kondisi tertentu masih dapat dipotong dengan menyisakan jarak sekitar 2,5 cm dari area yang terkena jamur. Pisau juga perlu dijaga agar tidak menyentuh bagian jamur sebelum digunakan untuk memotong bagian lainnya.
Tidak Semua Makanan Berjamur Bisa Diselamatkan
Makanan berjamur tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Jenis makanan, tekstur, kadar air, serta jenis jamurnya dapat memengaruhi apakah bagian yang tidak terlihat rusak masih aman atau tidak.
Untuk makanan yang bertekstur lunak dan memiliki kadar air tinggi, seperti roti, buah lunak, serta keju lunak, membuang bagian yang terlihat berjamur umumnya bukan pilihan yang aman.
Jika ragu terhadap kondisi makanan, terutama setelah disimpan terlalu lama, lebih baik membuangnya daripada mengambil risiko mengonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi.
