Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau obrolan soal politik itu rasanya kayak dengerin dosen killer pas lagi ngantuk berat? Isinya cuma angka-angka, istilah yang ribet, dan debat kusir yang nggak ada ujungnya. Nah, bayangin kalau urusan demokrasi yang "berat" itu tiba-tiba dipindahin ke pendopo desa yang adem, ditemenin suara gamelan, dan jauh dari bau-bau AC hotel yang kaku. Itulah yang dilakukan Hasto Kristiyanto, Sekjen PDI Perjuangan, baru-baru ini saat menyambut puluhan delegasi internasional di Desa Gadingan, Yogyakarta.
Alih-alih mengajak tamu mancanegara ke ballroom hotel berbintang yang penuh dengan setelan jas kaku, Hasto justru membawa mereka "pulang" ke kampung halamannya. Sebuah langkah yang menurut saya sangat jenius buat menunjukkan bahwa demokrasi itu bukan barang mewah yang cuma ada di buku teks, tapi sesuatu yang hidup di akar rumput.
Kenapa Gamelan Bisa Jadi "Guru" Demokrasi Terbaik?
Mari kita pakai analogi sederhana. Bayangkan kamu sedang melihat orkestra atau grup gamelan yang lagi latihan. Ada yang pegang kendang, ada yang nabuh gong, ada yang main saron, sampai yang metik siter. Kalau semuanya main sesuai ego masing-masing—si gong pengen bunyi terus, si kendang malah main musik rock—hasilnya pasti cuma polusi suara yang bikin kuping panas, kan?
Tapi, itulah keajaiban gamelan. Meski alat musiknya beda-beda bentuk dan suaranya, mereka bisa "ngobrol" satu sama lain lewat nada. Mereka tahu kapan harus nunggu, kapan harus masuk, dan kapan harus mengalun pelan. Itulah yang disebut Hasto sebagai harmoni.
Di dunia nyata, demokrasi itu persis kayak gamelan. Kita punya banyak kepala, banyak pendapat, dan banyak latar belakang. Kalau demokrasi kita cuma jadi ajang "siapa yang paling keras teriak dia yang menang", ya jadinya cuma ribut doang. Tapi kalau kita pakai prinsip gamelan—di mana perbedaan instrumen justru bikin lagu jadi indah—di situlah demokrasi yang sehat lahir. Ini adalah seni mendengarkan yang sering hilang di tengah ingar-bingar politik zaman now.
Menengok "Dapur" Demokrasi di Desa Gadingan
Desa Gadingan bukan sekadar lokasi buat makan malam. Bagi Hasto, tempat ini adalah saksi bisu masa kecilnya. Bayangin, seorang politisi papan atas membawa delegasi dari berbagai negara Asia ke tempat dia lahir dan besar. Ini adalah cara paling elegan buat bilang ke dunia: "Lihat, demokrasi kita itu akarnya dari sini, dari kehidupan sehari-hari masyarakat agraris yang guyub."
Di acara CALD Conference on Democratic Resilience tersebut, Hasto menekankan kalau kebudayaan adalah "benteng" terakhir kita. Ketika politik formal mulai kaku atau bahkan otoriter, seni dan budaya tetap bisa jadi ruang buat kita "bernafas". Puisi, tarian, dan lagu seringkali jadi cara orang biasa buat ngeritik kekuasaan tanpa harus berdarah-darah. Ini persis kayak cara kita nulis artikel opini kreatif di blog—kadang lewat tulisan ringan, pesan yang berat justru lebih gampang nyampe ke pembaca.
Trisakti Bung Karno: Filosofi yang Masih Relevan Banget
Hasto nggak lupa menyinggung soal Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Kalau kita terjemahkan ke bahasa anak muda sekarang, ini kayak tips buat jadi pribadi yang keren.
- Berdaulat dalam Politik: Jangan gampang disetir sama tren atau buzzer. Punya pendirian itu wajib.
- Berdikari dalam Ekonomi: Usahain punya penghasilan sendiri, jangan dikit-dikit minta sama orang tua atau pinjol.
- Berkepribadian dalam Kebudayaan: Jangan jadi "latah" ikut-ikutan tren luar negeri sampai lupa sama akar budaya sendiri.
Kebudayaan itu adalah identitas kita. Ibarat HP, Trisakti itu sistem operasinya. Kalau OS-nya kuat, mau dipakai aplikasi apa saja (tantangan zaman apa saja), HP-nya nggak bakal gampang hang atau kena virus otoriter.
Ketika Bule pun Terpikat dengan "Joged Agirang"
Yang paling menarik dari acara ini adalah reaksi Moritz Kleine-Brockhoff, Direktur Regional Friedrich Naumann Foundation (FNF) Asia. Bayangin orang asing yang terbiasa dengan logika politik Barat yang sangat terstruktur, tiba-tiba diajak ngibing bareng masyarakat desa sambil dengerin Sendratari Ramayana.
Moritz bahkan nyeletuk kalau PDI Perjuangan adalah satu-satunya partai yang dia anggap masih memegang teguh nilai toleransi dan demokrasi di Indonesia saat ini. Entah kamu setuju atau nggak sama pandangan politiknya, poin yang mau saya soroti di sini adalah: koneksi manusiawi.
Ternyata, delegasi internasional itu nggak butuh pidato yang panjang lebar pakai istilah bahasa Inggris yang rumit. Mereka butuh pengalaman. Mereka butuh liat anak-anak desa menari dengan tulus, mereka butuh ngerasain keramahan (hospitality) khas Jawa yang nggak ada di ruang rapat manapun. Ini bukti kalau diplomasi paling ampuh itu nggak selalu lewat meja perundingan, tapi lewat budaya dan kebersamaan.
Mengapa Kita Perlu "Ngopi" Bareng Demokrasi?
Seringkali kita ngerasa kalau demokrasi itu cuma urusan orang-orang di Jakarta, orang-orang di DPR, atau tokoh-tokoh besar. Padahal, demokrasi itu dimulai dari cara kita menghargai pendapat tetangga saat lagi ronda atau saat lagi kumpul di warung kopi.
Kalau kita terus-terusan menganggap politik itu "kotor" dan kita menjauh, yang ada malah orang-orang yang nggak bener yang bakal ngatur hidup kita. Jadi, belajarlah dari gamelan. Kalau ada satu orang yang nggak mau main bareng, lagunya bakal sumbang. Begitu juga demokrasi; kalau kita apatis, sistemnya bakal rusak.
Demokrasi yang tangguh itu bukan yang paling canggih teknologinya, bukan yang paling kaya, tapi yang paling bisa menjaga harmoni. Seperti kata Hasto, kekuasaan itu harus punya "karakter". Karakter itu cuma bisa dibentuk kalau pemimpinnya masih punya akar, masih ingat dari mana dia berasal, dan masih mau dengerin suara rakyat—bukan cuma suara yang ada di feed media sosial saja.
Kesimpulan: Jangan Sampai Kita "Sumbang"
Menarik banget melihat bagaimana sebuah acara di Yogyakarta bisa merangkum begitu banyak pesan besar. Dari gamelan, kita belajar toleransi. Dari pendopo desa, kita belajar kerendahan hati. Dan dari interaksi Hasto dengan delegasi, kita belajar kalau diplomasi itu bisa dilakukan dengan cara yang lebih manusiawi.
Jadi, buat kamu yang mungkin lagi jenuh sama hiruk-pikuk politik di medsos, coba deh sekali-kali cari suasana baru. Pelajari cara berpikir kritis lewat buku atau diskusi santai, dan jangan pernah berhenti buat peduli sama apa yang terjadi di sekitar kita. Karena pada akhirnya, kita semua adalah pemain dalam orkestra besar yang namanya Indonesia.
Jangan sampai kita jadi "pemain" yang bikin lagu kebangsaan kita jadi sumbang. Teruslah berkarya, tetap jaga toleransi, dan jangan lupa kalau perbedaan itu bukan buat diperdebatkan, tapi buat dipadukan jadi harmoni yang indah. Demokrasi itu seni, dan kita adalah senimannya.
Catatan Editor: Tulisan ini dibuat untuk memberikan perspektif santai mengenai dinamika politik dan kebudayaan. Semoga bisa jadi bahan renungan buat kamu yang ingin melihat sisi lain dari para tokoh bangsa kita.
