Pernah nggak sih kamu lagi asyik scrolling media sosial, terus tiba-tiba lewat video seseorang yang tampilannya sangat religius, lengkap dengan sorban atau peci, tapi ujung-ujungnya malah minta transferan atau nempel QRIS di layar? Rasanya tuh kayak lagi makan bakso, eh pas digigit malah nemu kerikil tajam. Nggak enak banget, kan? Nah, fenomena "Ustaz QRIS" ini rupanya bikin gerah aktor sekaligus pendakwah, Alfie Alfandy.
Dalam sebuah sesi jumpa pers film terbarunya, Seni Merayu Tuhan, yang digelar di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Alfie nggak segan-segan melepaskan "peluru" kritiknya. Ia merasa perlu menyentil oknum-oknum yang menjadikan agama sebagai kedok buat meraup keuntungan pribadi. Buat Alfie, ini bukan sekadar masalah salah paham, tapi sudah masuk ke ranah manipulasi kepercayaan orang banyak.
Ketika Agama Dijadikan ‘Warung’ Digital
Mari kita bicara jujur pakai analogi sederhana. Bayangkan kamu sedang tersesat di tengah hutan, lalu ada orang yang datang menawarkan bantuan dengan jubah emas. Kamu percaya saja karena dia terlihat seperti malaikat penolong. Tapi, alih-alih menunjukkan jalan keluar, dia malah minta dompetmu dengan alasan "biaya administrasi surga". Itulah kira-kira gambaran fenomena oknum yang menggunakan jabatan atau kedok ustaz demi kepentingan materi.
Alfie Alfandy, yang di film ini memerankan karakter Ustaz Basar, merasa bahwa posisi "di atas" atau punya pengikut banyak itu adalah amanah yang berat. Ibarat seorang sopir bus yang membawa ratusan penumpang, kalau sopirnya ugal-ugalan atau malah membawa busnya ke jurang demi kepuasan pribadi, ya tentu saja bakal ada konsekuensinya. Di media sosial, banyak orang yang sudah pinter, tapi tetap saja ada yang termakan narasi "spiritual tapi transaksional".
"Teruntuk orang-orang yang masih memanfaatkan jamaah atau masyarakat seperti dirinya sendiri, taubatlah kepada Allah. Baik sama Allah," ujar Alfie dengan nada tegas namun tetap menyejukkan. Kalimat ini bukan cuma sekadar sindiran, tapi pengingat keras bahwa apa pun yang kita tanam, itulah yang bakal kita tuai. Kalau kamu menanam kebaikan, buahnya manis. Kalau menanam tipu daya, jangan kaget kalau nanti panennya adalah badai.
Seni Merayu Tuhan: Bukan Sekadar Film Religi Biasa
Mungkin kamu bakal bertanya, "Film religi lagi? Isinya ceramah doang?" Eits, tunggu dulu. Seni Merayu Tuhan ini bukan film yang isinya cuma orang duduk bersila terus kasih wejangan membosankan. Film yang disutradarai oleh Cesa David Luckmansyah ini diangkat dari buku motivasi karya Habib Husein Ja’far Al Hadar, sosok yang kita tahu sangat relate dengan anak muda zaman sekarang.
Film ini justru mengajak kita merenung soal kehidupan. Alfie menjelaskan bahwa judulnya memang Seni Merayu Tuhan, tapi ada pesan filosofis yang lebih dalam di baliknya. "Kita bilang kita memiliki cara Seni Merayu Tuhan, tapi jangan lupa bahwa di setiap detiknya, Tuhan sedang merayu kita untuk pulang," tuturnya.
Bayangkan Tuhan itu seperti seorang sahabat yang selalu mengirimkan chat manis setiap saat, tapi kita seringkali malah read doang atau bahkan memblokir nomor-Nya karena sibuk dengan dunia. Hidup itu kadang seperti labirin yang rumit, dan film ini mencoba memberikan peta sederhana untuk kembali ke titik nol: keikhlasan. Kalau kamu suka dengan konten-konten yang bikin hati adem, mungkin artikel tentang refleksi diri ini bisa jadi teman baca kamu setelah selesai menonton filmnya nanti.
Hukum Tabur Tuai: Karma Itu Nyata, Bro!
Di dunia digital yang serba cepat ini, kadang kita merasa apa yang kita lakukan di balik layar HP itu nggak akan ketahuan. Padahal, jejak digital itu lebih tajam daripada silet. Alfie menekankan bahwa setiap perbuatan curang atau manipulasi pasti ada "tagihan" yang harus dibayar. Dia mengutip prinsip dasar dalam agama: balasan tergantung amal perbuatan.
Analogi gampangnya begini: kalau kamu main game dan pakai cheat buat menang, mungkin kamu bakal menang di awal. Tapi, sistem bakal mendeteksi kecurangan itu dan akunmu bakal di-banned permanen. Begitu juga dengan hidup. Oknum "Ustaz QRIS" mungkin bisa kaya mendadak dari hasil manipulasi, tapi ketenangan hidupnya? Itu barang mahal yang nggak bisa dibeli pakai saldo e-wallet mana pun.
Alfie menegaskan kalau kritiknya ini bukan karena dia pernah kena tipu, melainkan sebuah keresahan sosial. Dia melihat bahwa fenomena ini sudah menjadi "sampah" di ruang publik digital kita. Menjadi tokoh agama atau publik figur itu punya tanggung jawab moral. Jangan sampai kita jadi orang yang katanya beragama, tapi perbuatannya justru bikin orang lain jadi jauh dari agama.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Menjelang penayangannya pada 13 Agustus 2026, film ini dibintangi oleh deretan aktor berbakat seperti Ari Irham, Lutesha, Teuku Ryzki, hingga Rieke Diah Pitaloka. Ceritanya berfokus pada seorang pemuda yang sedang berduka dan mencari makna keimanan di tengah dunia yang makin kacau ini.
Kenapa film ini penting? Karena di tengah gempuran konten yang bikin kita cemas, kita butuh asupan yang bikin kita "balik kanan" ke arah yang benar. Kita sering terobsesi dengan validasi orang lain, padahal yang paling penting adalah bagaimana kita "merayu" Sang Pencipta agar hati kita tetap teguh.
Buat kamu yang penasaran, jangan lupa catat tanggalnya. Seni Merayu Tuhan bukan cuma buat orang yang religius banget, tapi buat siapa saja yang merasa lelah dengan hiruk-pikuk kehidupan dan butuh sedikit "pelukan" lewat cerita.
Kesimpulan: Jangan Gampang "Klik"
Sebagai penutup, yuk kita jadi netizen yang lebih cerdas. Jangan gampang terpesona sama orang yang jago branding di medsos. Cek dulu rekam jejaknya, lihat bagaimana dia memperlakukan orang lain, dan yang paling penting, gunakan logika. Kalau ada yang mengatasnamakan Tuhan tapi ujung-ujungnya minta "bantuan dana" dengan cara yang maksa, mending scroll lewat saja.
Alfie Alfandy sudah memberikan sentilan yang cukup keras. Sekarang, bola ada di tangan kita sebagai penonton dan pengguna media sosial. Mari kita dukung karya-karya yang membawa pesan positif, sekaligus tetap waspada terhadap oknum yang mencoba mempermainkan iman demi kepentingan dompet.
Ingat, Tuhan nggak butuh QRIS untuk mendengar doa kita. Tuhan cuma butuh ketulusan. Dan bagi kamu yang masih ingin membaca lebih lanjut tentang bagaimana menjaga kewarasan di era digital, jangan lupa cek kumpulan tips hidup sehat yang sudah saya siapkan untuk kamu.
Jadi, sudah siap buat nonton Seni Merayu Tuhan bareng teman atau pasangan? Semoga film ini nggak cuma jadi tontonan, tapi juga jadi tuntunan buat kita semua agar nggak gampang "tertipu" sama kemasan religius yang isinya cuma omong kosong belaka. Tetap jaga hati, tetap kritis, dan tetap jadi orang baik di dunia yang makin aneh ini!
