Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau dunia hukum itu kayak labirin raksasa yang pintunya selalu terkunci buat orang-orang kecil? Pas kita butuh bantuan, pintu itu malah digembok rapat, dan kunci satu-satunya adalah "orang dalam" atau tumpukan uang yang tebalnya minta ampun. Nah, di tengah kemacetan birokrasi yang bikin emosi itu, muncul sosok yang kayak polisi lalu lintas di persimpangan jalan yang semrawut: Mohammad Sholeh, atau yang lebih akrab disapa Cak Sholeh.
Sayangnya, kabar duka datang menyelimuti kita semua. Cak Sholeh dikabarkan telah berpulang ke pangkuan Sang Khalik pada Jumat dini hari, (7/8). Beliau menghembuskan napas terakhir di RS Siloam Surabaya setelah berjuang melawan penyakit autoimun selama kurang lebih 20 hari. Kepergian beliau bukan cuma kehilangan buat keluarga, tapi juga buat kita-kita yang sering merasa kalau "keadilan" itu hanyalah kata mutiara di buku teks sekolah yang nggak pernah kejadian di dunia nyata.
Mengapa ‘No Viral No Justice’ Bukan Sekadar Slogan?
Kalau kamu aktif di media sosial, pasti familiar banget sama slogan "No Viral No Justice". Sekilas, ini kedengarannya kayak sarkasme, kan? Tapi sebenarnya, ini adalah diagnosa jujur buat sistem hukum kita yang sering kali "budek" kalau nggak diteriaki lewat konten viral.
Bayangin deh, hukum itu seperti sistem operasi (OS) komputer yang udah ketinggalan zaman. Dia lambat, banyak bug, dan sering nge- hang pas lagi dibutuhkan buat ngerjain tugas berat. Cak Sholeh adalah seorang programmer pemberani yang sadar kalau nunggu update resmi dari sistem itu butuh waktu bertahun-tahun—atau bahkan nggak bakal pernah datang. Jadi, dia pakai "trik" viral supaya sistem yang lemot itu dipaksa reboot dan memberikan perhatian pada kasus-kasus yang selama ini diabaikan.
Buat Cak Sholeh, viral itu bukan buat cari panggung atau followers. Itu adalah megaphone. Ketika orang kecil dirampas haknya, suaranya cuma kayak bisikan di tengah konser rock. Tapi, begitu di-viral-kan, suaranya jadi jeritan yang bikin orang-orang di kursi kekuasaan nggak bisa lagi pura-pura tidur. Inilah yang membuat sosoknya begitu dicintai, karena dia nggak cuma ngomong soal pasal-pasal yang bikin pening, tapi ngomong soal keadilan yang terasa nyata.
DNA Aktivis yang Mengalir di Nadinya
Sebelum dikenal sebagai pengacara yang "garang" di media sosial, Cak Sholeh sebenarnya adalah "anak muda pemberontak" di era yang tepat. Dia bukan orang yang baru muncul kemarin sore saat tren media sosial meledak. Jauh sebelum itu, dia sudah ditempa di kawah candradimuka pergerakan mahasiswa.
Beliau tercatat pernah aktif di organisasi SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) dan PRD (Partai Rakyat Demokratik). Buat kamu yang nggak sempat ngerasain era itu, Orde Baru itu ibarat tembok beton yang tebalnya berkilo-kilometer. Nggak ada yang berani ngetuk, apalagi ngerobohin. Tapi Cak Sholeh dan kawan-kawannya adalah orang-orang yang berani bawa palu godam. Mereka sadar kalau kebebasan itu nggak bisa dibeli di toko kelontong, tapi harus diperjuangkan dengan keringat dan keberanian.
Darah aktivis ini lah yang membuat instingnya tajam. Dia tahu kalau hukum bukan cuma soal menang atau kalah di meja hijau, tapi soal memenangkan hati nurani publik. Dia pernah mencoba peruntungan di jalur politik dengan maju sebagai bakal paslon independen Wali Kota Surabaya pada 2020 bersama Taufik Hidayat. Kenapa independen? Karena dia pengen membuktikan kalau rakyat bisa "nyetir mobil sendiri" tanpa harus bergantung pada "sopir" dari partai politik. Meski jalannya nggak mulus, semangat itu tetap membekas.
Autoimun: Lawan yang Tak Terlihat
Kabar kepergian beliau karena penyakit autoimun memang bikin banyak orang kaget. Kalau kita analogikan, autoimun itu ibarat sistem pertahanan tubuh kita (tentara di dalam diri kita) yang malah salah sasaran. Bukannya menyerang musuh dari luar, eh, malah menyerang "markas sendiri". Ini musuh yang sangat sulit dihadapi karena musuhnya adalah diri sendiri.
Daniel Rongrong, teman seperjuangan beliau, mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. Selama 20 hari di RS Siloam Surabaya, perjuangan Cak Sholeh untuk sembuh pasti nggak mudah. Kita sering lupa kalau di balik sosok yang terlihat kuat dan vokal di layar HP kita, ada manusia yang punya batasan fisik. Seperti baterai ponsel yang terus-terusan dipakai live streaming tanpa henti, akhirnya dayanya pun harus habis.
Warisan yang Ditinggalkan: LBH No Viral No Justice
Pertanyaan besarnya sekarang adalah, apa yang terjadi setelah Cak Sholeh nggak ada? Apakah semangat "No Viral No Justice" akan ikut terkubur?
Jawabannya: tentu saja tidak. Cak Sholeh sudah meletakkan fondasi lewat LBH No Viral No Justice. Ini bukan sekadar kantor hukum biasa yang isinya cuma tumpukan kertas dan bau kopi basi. Ini adalah wadah buat orang-orang yang selama ini merasa "nggak punya akses" buat melawan ketidakadilan.
Bagi kalian yang ingin belajar lebih banyak tentang bagaimana mengawal kasus hukum atau sekadar ingin tahu perkembangan isu-isu terkini dengan bahasa yang santai, kalian bisa mampir ke halaman utama kami untuk membaca tulisan-tulisan lain yang mungkin bisa nambah wawasan kamu tentang cara kerja dunia di sekitar kita.
Mengapa Sosok Seperti Cak Sholeh Sangat Penting?
Dunia ini butuh lebih banyak orang seperti Cak Sholeh. Bukan karena dia sempurna, tapi karena dia berani menjadi "duri dalam daging" bagi ketidakadilan. Dalam ekosistem hukum yang sering kali dingin dan kaku, sosok yang punya empati tinggi dan berani bersuara adalah sebuah kemewahan.
Kalau kita bandingkan dengan media sosial saat ini, di mana banyak orang cuma berani "berisik" di kolom komentar tapi nggak berani ambil tindakan nyata, Cak Sholeh adalah pengecualian. Dia mengubah kemarahan publik menjadi energi positif untuk menekan pihak-pihak yang abai. Dia membuktikan bahwa digital activism (aktivisme digital) punya kekuatan yang nyata kalau diarahkan dengan benar.
Kesimpulan: Terima Kasih, Sang Pengacara Rakyat
Menutup tulisan ini, kita semua tentu merasa kehilangan sosok "kakak" atau "guru" yang nggak segan-segan buat turun langsung ke lapangan. Cak Sholeh mungkin sudah nggak bisa lagi posting video klarifikasi atau membela klien di pengadilan, tapi jejak langkahnya sudah jadi peta bagi para pengacara muda atau aktivis-aktivis masa depan.
Keadilan di negeri ini mungkin masih jauh dari kata sempurna—masih ada banyak "lubang di jalan raya" yang harus kita tambal bersama. Tapi, dengan adanya orang-orang yang berani vokal seperti Cak Sholeh, setidaknya kita tahu ke mana arah yang harus dituju.
Selamat jalan, Cak Sholeh. Terima kasih sudah berani jadi suara bagi mereka yang dibungkam. Terima kasih sudah mengajarkan kita bahwa kalau sistem memang nggak mau dengar, ya kita harus bikin suaranya lebih keras sampai mereka nggak punya pilihan lain selain mendengarkan. Perjuanganmu mungkin di sini sudah selesai, tapi benih keberanian yang kamu tanam akan terus tumbuh di hati banyak orang.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, dan semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari hidup beliau: bahwa hidup yang paling bermakna adalah hidup yang dihabiskan untuk membela mereka yang nggak punya suara. Rest in power, Cak!
